Selasa, 19 Desember 2017

Crita santri

Cotage love my story

     Berbulan bulan tepatnya sudah 3 tahun aku mencari ilmu di pesantren Darur Roja’. Bagiku mengaji adalah pengalaman terunik dan terindah. Sebenarnya dulu aku tidak ingin mondok namun, ibu dan ayah memintaku untuk menuruti keinginannya.Saat itu mereka masih merantau bahkan sampai sekarang.Entah pulang kapan,aku tidk tau menau tentang hal itu.Yang aku ketahui hanyalah wajah,suara dan senyumnya yang mengembang di balik Handpone.memang,terkadang aku merasa iri kepada teman temanku yang selalu di jenguk kedua orang tuanya,terutama tahun ini, sedih? itu pasti. Tetapi ayah selalu mengajarkan ku untuk menjadi perempuan kuat dan tangguh terutama dalam ujian hidup.ya..aku sudah sangat bersyukur.Bersyukur karna masih mempunyai kedua orang tua yang selalu menyayangiku dan membimbingku.mungkin saat ini aku tidak bisa berkumpul engan mereka.Tapi aku yakin bila sudah waktunya,kami akan berkumpul.Karna aku tau rencana Allah itu indah dan Allah itu adil.
     Ketika di bangu SMP aku bercita-cita ingin meneruskan ke SMA favorit di SMP 1 Kebumen.Dan itu hanyalah mimpi yang mungkin tak terwujud, kulanjutkan memasuki gerbang ponpes yang kini menjadi tujuanku untuk ibu dan ayah
     “Hay! Melamun saja, ayok temani aku ke ndalem mengembalikan payung. Takutnya nanti ada yang mau membutuhkan.” Ucap Binti panjang lebar padaku. “Baiklah ayok.” Kataku seraya mengikuti Sofi dari belakang. Dia adalah teman satu angkatanku, dia juga sahabatku dan sudah kuanggap sebagai keluargaku. Di sini kami semua adalah keluarga dan saudara. Apapun yang kami punya mereka juga berhak.
     Jarak asrama putri dengan ndalem tidak jauh hanya beberapalankah jika jalan kaki. Sebelum sampai ndalem kami di jalan berpapasan dengan kang-kang pondok yang ingin ke masjid “Assalamu’alaikum mbak!i” Ucap salam dari salah satu di antara mereka “Waalaikumsalam kang.” Jawabku dan Sofi berbarengan. Itu sudah tradisi di pondok kami jika berpapasan setidaknya mengucapkan salam dan menundukkan pandangan dari yang bukan mahromnya. Saat kami tiba Binti masuk ke ndalem dan mengembalikan payung yang dia pinjam. Aku hanya menunggu di luar. “Sudah?” Tanyaku. “Ya. Ayok kita kembali.” Aku mengangguk.
Saat aku kembali ke kamar,aku melihat surat singkat yang tergletak di atas lemariku.
     ‘Assalamualaikum Azizah’
    Ini siapa?,orang yang tidak dikenal mengirim surat padaku melalui Sofi. ‘Waalaikumsalam, maaf ini siapa?’ balasku,meski sedikit takut untuk surat menyurat.karna dalam aturan pondok tidak di perbolehkan.
     Tidak ada  2 hari dia membalasnya. ‘Saya Zaid bolehkah kita saling mengenal?’.deg! jantungku berdebar.Dia adalah kang pondok yang terkenal dengan tawaduknya kepada kiyai dan nyai.Kali ini aku hanya menitipkan salam kepada Sofi “sampaikan kepada kang Zaid, dia boleh mengenalku”
    ‘Terima kasih Azizah’
     Dan mulai dari surat singkat itulah aku mengenal sosok Zaid. Seorang santri yang terkenal akhlak budi pekertinya, rupanya dia mendapat nomorku dari Binti sahabatku. Awalnya aku tidak percaya karena dia memberikan nomorku pada orang lain tanpa meminta izinku lebih dulu. Namun, dengan seiring waktu aku bisa menerima. Entah kenapa aku merasa rindu apabila tidak berkirim salam atau surat dengannya. Astsghfirullah hall’adzim, ya Allah ampunilah hambamu ini.
     “Ciee Azizah.. lagi mikirin Zaid ya!? Ayoo ngaku?” Ledek mba cahya teman sekamarku “haha nggak kok mba, mending juga hafalin setoran” elakku. “Helleh! Lihat saja wajahmu udah kaya kepiting rebus gitu. Hihihi, kamu bisa boongin mba tapi nggak dengan hati kamu sendiri” jelas mba cahya. “Iya udahlah terserah mba aja.” Kataku mengalah dari pada berdebat.
     Hari liburan pondok dan sekolah sudah tiba, kini saatnya aku bisa berlibur ke kampung halaman. Rindu dengan nini rupanya telah menggunung, bagaimana tidak 3 tahun lebih aku tak bertemu nini dan ini saatnya aku bisa berjumpa kembali. Aku naik mobil dari pondok k setasiun bersama sntri ngapak yang ingn pulang kampung juga karena jaraknya yang lumayan jauh, aku membeli tiket kahuripan yang lebih murah. 3 jam aku menunggu kereta dan akhirnya datang juga meluncur menuju stasiun tujuan.
     Lebih kurang 10 jam aku berada di kereta alhamdulillah sekarang aku sudah sampai di tempat kelahiranku, Kebumen. Kemudian aku melihat seseorang yang melambaikan tangannya ke arahku siapa lagi kalau bukan budeku. Senangnya diri ini sebab rasa rindu itu menguap dengan cepat entah kemana, “Assalamu’alaikum bude. Gimana kabar bude dan nini?” Ucapku sambil menciumi tangan bude. “Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik zah. Kamu sendiri bagaimana? Betah di pondok?.” “Alhamdulillah bude azizah baik. Tentu dong betah, gimana nggak kan banyak nambah pengalaman.” Kataku dengan senyuman. “Hahaha syukurlah nak. Mari kita pulang.” Ajak bude dengan menggemnggam tangan kananku. Aku pun mengangguk mengiyakan.
     Sampai di rumah, masih sama arsitektur bangunan masa kini hanya saja catnya berganti abu abu dipadu dengan putih serasi sekali. Ruangannya pun masih sama, tidak ada yang berubah kecuali cat tembok tadi. Aku lantas menuju kamarku di lantai atas, yah inilah kamarku yang penuh dengan history. Merebahkan tubuh ini, lelahnya (batinku). Dering ponselku berdering. Zaid, tidak biasanya dia meneleponku,bagaimana dia tahu nomerku?. Kura-kira ada hal penting apa ya?.
     “Hallo! Assalamualaikum”
     “Waalaikumsalam Azizah, maaf ganggu sebentar.”
     “Iya nggak papa. Ada hal penting apa ya kok tumben kamu telfon aku?” Tanyaku penasaran.
“Iya gini minggu depan hari ahad kamu dan keluargamu ada acara nggak?” Jelasnya.
“Insya Allah nggak. Kenapa?” Tanyaku sekali lagi karena masih tak mengerti.
“Saya ingin mengajak kamu ke rmahku dengan ninimu” Terangnya panjang.
“Owh. Insya Allah sih bisa, ada keperluan apa kok pake datang ke rumahmu segala?”
     “Saya hanya ingin mengetahui tentang kamu dan keluargamu,jug ingin leih akrab denganmu?”
     DEGH!!!
     Jantung ini berdetak tak beraturan. Apakah aku mimpi? Tidak! Ini bukan mimpi tapi ini nyata!.
     “Azizah,aku mencintaimu...?”
     “Cinta!. Fitrah itulah yang datang tanpa permisi. Sebenarnya rasa itu datang ketika pertama kali saya melihatmu bersama Sofi dan Binti menuju ndalem kala itu. Dari sanalah cinta ini tumbuh tak dapat saya kendalikan hingga saya nekat berkenalan dengan perempuan yang saya cintai untuk lebih jauh yaitu kamu. Bagaimana bersediakah kamu ta’aruf denganku?.”
     “Baik saya bersedia berta’aruf denganmu tapi dengan satu sarat.jka kamu benar ingin srius denganku. Tunggulah aku sampai lulus SMA Dan izinkan aku menjadi santri salaf selama 2 tahun.” Jawabku dengan derai air mata keharuan.
      “Alhamdulillah terima kasih Azizah, atas kesediaannya. Saya berjanji akan menunggumu dan kelak saya akanmenjadi  kepala rumah tangga yang baik.”
     “Aamiin ya Allah.”
     “Saya hanya ingin menyampaikan itu. Maaf mengganggu waktu istirahat kamu. Sungguh Azizah saya merasa bahagia dengan ini. Kalau begitu sampai jumpa minggu besok.”
     “Saya juga bahagia untuk ini. Sampai jumpa minggu besok.”
     “Assalamu’alaikum”
     “Waalaikumsalam”
      Aku turun mencari nini dan menceritakan semuanya. Nini setuju terlebih karena dia terkenal dengan ahlaknya dan dipercaya sebagai tangan kanan romo kyai. Bude juga bahagia dan memelukku. Lalu,Ibu dan Ayah? Mereka juga sangat senang,saat aku menelpnnya.
     Tak disangka dan di duga,ada seorang pria yang benar benar mncintaiku,bahkan ia rela menungguku lulus dari pondok.tapi,aku juga harus lihai dan berhati hati dalam menjaga hati,pandangan,dan perasaan kepada Zaid. Karna ia juga belum halal bagiku.Dan saat itu . Dalam doaku nama Zaid selalu teselip.  “ya Allah, berilah hamba petunjuk dan hidayahmu.semoga yang kelak yang menjadi imamku adalah imam yang shalih,berbudi pekerti ,baik ahlaknya dan ia mencintaiku karnaMU,cinta yang tulus dan hanya mengharap ridhoMU..amin...amin ya rabbal alamin”

#.....the and.....#
By alfiana n.a

Tidak ada komentar:

Posting Komentar